KENAIKAN TARIF TOL

17 06 2010

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Ditengah menurunnya perekonomian negeri ini, pemerintah kembali mengusulkan kenaikan jalan tol, yang ditengarai karena adanya standar pelayanan minimal (SPM) jalan tol seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 392/PRT/M/2005. Akan tetapi menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) rencana kenaikan tol dinilai tidak fair, hal ini karena berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada bulan Mei 2010 sebesar 0,29 persen. Sedangkan laju inflasi tahun kalender (Januari-Mei) 2010 sebesar 1,44 persen dan laju inflasi year on year (Mei 2010 terhadap Mei 2009) sebesar 4,16 persen. Menurut YLKI sendiri usulan kenaikan tarif jika melebihi inflasi itu ilegal. Normatifnya kenaikan tidak melebihi batas maksimum inflasi.

Sebenarnya untuk menaikkan tarif tol tidak hanya berdasarkan pada ketentuan setiap dua tahun terjadi kenaikan dan dasar laju inflasi. Namun kenaikan itu, harus punya prasyarat. Prasyaarat itu adalah mengenai standar mutu pelayanan.  Jadi jangan dinaikkan jika tidak memenuhi syarat mutu pelayanan. Belakangan ini pelayanan yang diberikan oleh operator jalan tol jauh memenuhi standar persyaratan.

Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen, saya mencoba meneliti hal tersebut sebagai tugas akhir semester.

1.2 Rumusan Masalah

Makalah ini meneliti mengenai “ Sejauhmana Informasi yang diberikan Pemerintah Dalam mengusulkan Kenaikan Tarif Tol Jakarta-Cikampek dan Seberapa Besar Minat Masyarakat Bila Kenaikan Tarif Tol Jakarta-Cikampek Dipenuhi “

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

  • Mengetahui sampai sejauhmana Informasi usulan tarif tol diterima masyarakat.
  • Mengetahui minat dan sikap masyarakat

1.4 Kegunaan Penelitian

  • Kegunaan penelitian ini secara teoritis untuk mengetahui efek informasi kenaikan tarif tol terhadap masyarakat.
  • Secara praktis penelitian ini berguna untuk mengetahui seberapa besar minat dan sikap masyarakat mengenai kenaikan tarif tersebut.

Bab II

Kerangka Teori

2.1       Tinjauan Pustaka

Materi makalah ini akan membahas mengenai kenaikan tarif jalan tol , pemahaman dan minat, serta sikap masyarakat mengenai usulan tersebut. Maka dalam makalah ini pula saya menjadikan jalan tol Jakarta-cikampek sebagai objek untuk penelitian saya. Sebelum saya membahas lebih jauh ada baiknya saya mencoba menjelaskan mengenai kepustakaan yang ada dalam makalah ini.

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel;

Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol.

Sistem jaringan jalan terdiri atas sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder. Sistem jaringan jalan primer merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan. Sistem jaringan jalan merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan. Jalan umum menurut fungsinya dikelompokkan ke dalam jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan.

Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna. Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi. Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

Minat merupakan suatu perhatian khusus terhadap suatu hal tertentu yang tercipta dengan penuh kemauan dan tergantung dari bakat dan lingkungannya. Minat dapat dikatakan sebagai dorongan kuat bagi seseorang untuk melakukan segala sesuatu dalam mewujudkan pencapaian tujuan dan cita-cita yang menjadi keinginannya

sikap, menurut “Spencer “sikap diartikan sebagai status mental seseorang. Dan Sikap dapat diekspresikan dengan berbagai cara, dengan kata-kata yang berbeda dan tingkat intensitas yang berbeda. Sementara menurut Azwar (1995) sikap dapat dikategorikan ke dalam tiga orientasi pemikiran, yaitu: yang berorientasi pada respon, yang berorientasi pada kesiapan respon, dan yang berorientasi pada skema triadik.

Pertama, yang berorientasi pada respon. Orientasi ini diwakili oleh para ahli seperti Louis Thurstone, Rensis Likert, dan Charles Osgood. Dalam pandangan mereka, sikap adalah suatu bentuk atau reaksi perasaan. Secara lebih operasional sikap terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) terhadap objek tersebut (Berkowitz dalam Azwar 1995).

Kedua, yang berorientasi pada kesiapan respon. Orientasi ini diwakili oleh para ahli seperti Chave, Bogardus, LaPierre, Mead, dan Allport. Konsepsi yang mereka ajukan ternyata lebih kompleks. Menurut pandangan orientasi ini, sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dengan cara-cara tertentu. Kesiapan ini berarti kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan kepada suatu stimulus yang menghendaki adanya respons. Sikap oleh LaPierre (dalam Azwar 1995) dikatakan sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial; atau secara sederhana sikap adalah respons terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.

Ketiga, yang berorientasi pada skema triadik. Menurut pandangan orientasi ini, sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek. Secord dan Backman (dalam Azwar 1995) mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek lingkungan sekitarnya.

Menurut Azwar, di kalangan ahli psikologi sosial dewasa ini terdapat dua pendekatan dalam mengklasifikasikan sikap. Yang pertama adalah yang memandang sikap sebagai kombinasi reaksi antara afektif, prilaku, dan kognitif terhadap suatu objek. Pendekatan pertama ini sama dengan pendekatan skema triadik, yang kemudian disebut juga dengan pendekatan tricomponent.

Yang kedua adalah yang meragukan adanya konsistensi antara ketiga komponen sikap di dalam membentuk sikap. Oleh karena itu pendekatan ini hanya memandang perlu membatasi konsep dengan komponen afektif saja.

Menurut Mar’at (1984) ketiga komponen dalam sikap masih dapat dijabarkan lagi sebagai berikut:

  • Komponen kognitif, berhubungan dengan: belief (kepercayaan atau keyakinan), ide, dan konsep.
  • Komponen afektif, yang berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang
  • Komponen konatif, yang merupakan kecenderungan bertingkah laku.

Di lain pihak, Mann (dalam Azwar 1995) juga mencoba menjabarkan ketiga komponen sikap menjadi:

  • Komponen kognitif berisikan persepsi, kepercayaan, dan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Seringkali komponen ini dapat disamakan dengan pandangan (opini), terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang kontroversial.
  • Komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah emosi. Masalah emosional inilah yang biasanya berakar paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah sikap seseorang
  • Komponen konatif berisikan kecenderungan untuk bertindak atau untuk bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.

Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan agar terdiri atas pertanyaan favorable dan pertanyaan unfavorable dalam jumlah yang kurang lebih seimbang. Dengan demikian pertanyaan yang disajikan tidak semua positif atau semua negatif yang dapat mendatangkan kesan seakan-akan isi skala yang bersangkutan seluruhnya memihak atau sebaliknya seluruhnya tidak mendukung objek sikap. Variasi pertanyaan favorable dan unfavorable akan membuat responden memikirkan lebih hati-hati isi pertanyaannya sebelum memberikan respons sehingga stereotipe responden dalam menjawab dapat dihindari (Azwar 1995).

Edwards (dalam Azwar 1995) telah meramu berbagai saran dan petunjuk dari para ahli menjadi semacam pedoman penulisan pertanyaan yang disebutnya sebagai kriteria informal penulisan pertanyaan sikap. Kriteria termaksud, antara lain adalah sebagai berikut : Jangan menulis pertanyaan yang membicarakan mengenai kejadian yang telah lewat kecuali kalau objek sikapnya berkaitan dengan masa lalu.

Metode – Metode Pengukuran Sikap

Suatu skala harus dirancang dengan hati-hati. Stimulusnya harus ditulis dan dipilih berdasarkan metode konstruksi yang benar. Skor terhadap respons seseorang harus diberikan dengan cara-cara yang tepat. Agar dapat memenuhi kualitas dasar alat ukur yang standar, maka skala harus mengembangkan terlebih dahulu apa yang disebut sebagai tabel spesifikasi. Dalam setiap perencanaan skala sikap, langkah pertama yang harus dilakukan adalah penentuan tujuan ukur dan pembatasnya. Hal ini berarti bahwa:

  • ciri-ciri objek psikologis yang berupa aspek kepribadian manusia yang hendak diungkap harus diidentifikasikan dengan jelas lebih dahulu.
  • konsep harus dibatasi konstruk (construct) atau konsepsi teoritisnya, lalu didefinisikan secara operasional dalam bentuk dimensi-dimensi atau indikator-indikator perilaku sehingga dapat diukur.

Pada perancangan skala terhadap konsep terdapat dua hal yang harus dijadikan perhatian, pertama adalah penentuan dan pembatasan konsep yang akan digunakan dan yang kedua adalah menentukan dimensi-dimensi atau indikator-indikator perilaku yang hendak diukur. Sedangkan pada perancangan skala sikap dua hal penting tersebut adalah: pertama adalah penentuan dan pembatasan konsepsi dari objek yang akan diukur dan yang kedua adalah penentuan batas objek yang hendak diukur.

2.2       Hipotesis

Hipotesis adalah hasil proses teoretik atau proses rasional yang berbentuk pernyataan tentang  karakteristik poupulasi. Hipotesis juga merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian yang ada pada perumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan teori yang relevan, belum didasarkan atas fakta-fakta empiris yang diperoleh dari pengumpulan data. Sebagai hasil proses teori yang belum berdasarkan atas fakta, maka hipotesis masih perlu diuji kebenarannya dengan data empiris. Trelease (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai “suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat diamati”, sedangkan Good dan Scates (1954) menyatakan bahwa “hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan dan diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang dapat diamati, dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah penelitian selanjutnya” (Nazir, 1985).

Jadi hipotesis dalam makalah ini adalah ‘’Semakin sedikit informasi yang diberikan pemerintah dalam mengusulkan kenaikan tarif tol, maka semakin rendah minat masyarakat terpengaruh untuk menyetujuinya’’

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

3.1 Metodelogi Penelitian

Metodelogi penelitian dalam makalah ini adalah kuantitatif /Survey, jadi dalam penelitian ini menggunakan survey dari para pengguna jalan tol Jakarta-cikampek yang tinggal diwilayah bekasi, jawa barat.

Survey yang saya lakukan adalah dengan cara memberikan questioner kepada para pengguna jalan tol Jakarta-cikampek, dimana jumlah pengguna yang saya berikan questioner  didaerah bekasi timur  sebanyak 100 responden

3.2 Populasi / sample

Populasi adalah Cakupan atau wilayah generelisasi yang terdiri atas obyek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitiuntuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Sample adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi atau merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti.

Sample yang saya gunakan adalah Purposive Sample, dimana purposive sample merupakan sample yang diambil berdasarkan tujuan penelitian.  Maksudnya adalah bahwa peneliti sudah mengindentifikasi siapa saja yang dijadikan sebagai sample.

Populasi/Sample dalam makalah ini adalah masyarakat pengguna jalan tol yang tinggal diwilayah bekasi timur kecamatan tambun selatan.

Populasi/sample yang diambil berdasarkan tingkatan pekerjaan terdiri dari :

  1. Pengusaha Angkutan =   25 orang
  2. PNS                              =   25 orang
  3. Karyawan                    =   25 orang
  4. Supir                            =   25 orang

Jumlah responden     = 100 orang

3.3 Teknik Pengolahan Data

Dalam makalah ini teknik pengolahan data yang saya gunakan adalah wawancara dengan instrument questioner. Dan questioner/pertanyaan yang diberikan kepada respoden sebagai berikut :

  1. Bagaimana menurut anda mengenai kenaikan jalan tol?
    1. Sangat Setuju
    2. Setuju
    3. Pikir-pikir
    4. Tidak setuju
    5. Sangat tidak setuju
  1. Bagaimana informasi yang diberikan pemerintah mengenai knaikan tarif tol?
    1. Sangat baik
    2. Baik
    3. Biasa saja
    4. Buruk
    5. Sangat Buruk

Tabel questioner 1

Populasi/Sample Sangat Setuju Setuju Pikir-pikir Tidak setuju Sangat tidak setuju
Pengusaha Angkutan 5 10 10
PNS 10 10 5
Karyawan/ Buruh 25
Supir 25
JUMLAH 15 20 5 60

Tabel questioner 2

Sample Sangat baik Baik Biasa saja buruk Sangat buruk
Pengusaha Angkutan 15 5 5
PNS 15 10
Karyawan/ Buruh 10 15
Supir 20 5
JUMLAH 15 25 35 25

Grafik questioner 1


Grafik questioner 2


3.4       Operasional Variabel

Variabel Atribut Indikator

PEMAHAMAN

INFORMASI

Tinggi

Sedang

RENDAH

Minimnya informasi yang diberikan kepada masyarakat mempengaruhi keberhasilan dari usulan tersebut
MINAT Tinggi

Sedang

RENDAH

Banyaknya janji tanpa ada perbaikan yang pasti dari pemerintah maupun pengelola jalan tol menimbulkan minat untuk mendukung kenaikan itu semakin berkurang atau rendah

SIKAP

Tinggi

Sedang

RENDAH

Kurangnya standar jalan tol menimbulkan sikap yang besar dari masyarak untuk menolak kenaikan tersebut.

Bab IV

Penutup

4.1       Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang saya lakukan dengan menggunakan metodelogi penelitian kuantitatif/survey serta data yang berhubungan dengan penelitian serta menggunakan purposive sample, dan teknik pengolah data yang dapat digunakan dalam makalah ini dapat saya simpulkan bahwa berdasarkan hasil atau poling dari penelitian ini dapat saya nyatakan bahwa animo masyarakat mulai dari questioner, table dan, grafik menunjukan kurangnya animo masyarakat untuk mendukung usulan kenaikan tariff tol Jakarta-cikampek.

Dari operasional variable yang saya buat juga menunjukan bahwa pemahan informasi menunjukan atribut rendah dalam pemberian informasi oleh pemerintah maupun pengelola, minat dan sikap  dari variable juga menunjakan indikasi yang sama.

Jadi hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa ‘’Semakin sedikit informasi yang diberikan pemerintah dalam mengusulkan kenaikan tarif tol, maka semakin kecil  minat masyarakat terpengaruh untuk menyetujuinya’’ adalah benar adanya berdasarkan penelitian yang saya buat.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: