the second man (kepemimpinan)

27 09 2009

MOUNT EVEREST adalah puncak dunia, 8.848 meter DPL. Tenzing Norgay adalah seorang Sherpa (pemandu) yang paling akrab dengan Himalaya. Semua pendaki besar dunia mengakui, bahwa orang yang paling layak menjadi orang pertama yang mencapai puncak dunia adalah Tenzing Norgay. Pada tanggal 29 Mei 1953 jam 11.30 Sejarah mencatat Tenzing Norgay sebagai orang kedua yang menaklukan puncak dunia setelah Edmund Hillary. Sebuah prestasi ini menghantarkan Edmun Hillary mendapatkan gelar Kebangsawanan dari Ratu Inggris
Sesaat setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya:
Reporter : Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?
Tenzing Norgay : Senang sekali
Reporter : Andakan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest ?
Tenzing Norgay : Ya, benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia.
Reporter : Mengapa Anda lakukan itu?
Tenzing Norgay, “Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN nya”.

Sukses
Cuplikan kisah tersebut adalah “dongeng” wajib bagi petualang alam liar professional dimanapun di dunia ini. Kisah itu selalu menjadi inspirasi keteguhan hati, komitment, ketulusan kasih dan rasa hormat yang tinggi kepada jalan profesi demi sebuah Sukses.
Sukses adalah sebuah proses, bukan tujuan. Tercapainya sebuah keinginan adalah salah satu dari proses itu sendiri. Menjadi nomor satu adalah impian semua orang, konon berada diatas adalah sorga yang paling menyenangkan.
Kompetisi terjadi sejak manusia meninggalkan rahim ibunya. Ketika genderang perlombaan menuju puncak ditabuh, semua orang berusaha menapaki jenjang karirnya untuk mencapai puncak kesuksesan. Semua modal dan perlengkapan dipersiapkan, dari bekal pendidikan, rangkuman pengalaman, koneksi dan permainan perpolitikan kantor, sejumlah uang hingga berbagai hal irasional mengikutinya.
Pertanyaannya adalah, apakah semua orang harus menduduki posisi puncak? Lalu kapan seseorang harus meninggalkan posisi itu untuk digantikan oleh seseorang yang lain? Jika seseorang tidak sampai posisi puncak, apakah berarti gagal?

Pemimpin
Pemimpin apa? Apakah pemimpin secara struktural dengan sebutan jabatan Manajer, Direktur, presiden komisaris atau CEO? Atau kepemimpinan “terselubung” yang sukses “memimpin” orang-orang lain termasuk memimpin sang pemimpin demi tercapainya sebuah tujuan?
Dalam keyakinan saya, kepemimpinan sejati bukanlah karena kita menduduki jabatan pemimpin dan bisa mengendalikan bawahan. Itu hal biasa yang tidak istimewa. Karena semua bawahan pada dasarnya akan patuh dan hormat kepada atasannya.
Kepemimpinan sejati yang saya yakini adalah saat kita mampu dan bisa mengendalikan siapapun termasuk orang-orang yang menduduki jabatan diatas posisi formal kita. Disinilah potensi jiwa kepemimpinan ditantang. Keunggulan dari jiwa ini adalah kemampuan pengendalian diri untuk tidak selalu harus muncul dan terkenal. Kemenangan kepemimpinan seperti inilah yang saya sebut sebagai kemenangan absolut. Biarlah orang lain sekadar merasa menang tetapi kemangan sejati adalah milik seseorang yang berhasil menciptakan orang lain untuk mencapai kemenangan itu sendiri. Seperti kemenangan seorang Tenzing Norgay.
Pemimpin yang bisa menciptakan sebuah perintah sebagai ide “milik” bawahan, adalah pemimpin yang hebat. Ia menyadari benar bahwa bawahan memerlukan pengakuan dan ia tidak sangat perlu, karena ia dan orang-orang tahu bahwa ia adalah pemimpin yang sebenarya.

Mengendalikan pemimpin
Mengendalikan pemimpin adalah sebuah seni agar pemimpin formal kita mengikuti kehendak-kehendak kita. Ini adalah seni perang yang sangat indah. Hanya pejuang-pejuang sejati yang bisa mengerjakannya dengan baik.
Seni mengendalikan ini sangat mengasyikan, karena lawan yang kita hadapi bukanlah diri si pemimipin tetapi diri kita sendiri. Kita harus mampu menguasai diri untuk logowo menjadi orang pada urutan kesekian, lalu kita harus menyampaikan semua “perintah“ itu dengan halus dan menghindari pola-pola instruktif.
Yang paling pertama harus diyakini adalah bahwa semua gemerlap sukses adalah hak si pemimpin formal. Sukses kita adalah sukses pemimpin. Relakan itu terjadi. Jika kita tidak pernah rela dengan hal itu, simpanlah itu rapat-rapat dalam hati sampai tiba waktunya kita berkesempatan menjadi pemimpin formal itu sendiri.
Yang kedua, pahami mental dan karakter pemimpin formal itu, sehingga kita bisa dengan mudah “mengendalikannya”. Yang ketiga, harus diingat bahwa pemimpin juga manusia biasa yang pasti punya kelemahan. Untuk itu cara yang paling efektif mengendalikan pemimpin adalah dengan “meringankan” beban kepemimpinannya.
Yang keempat, berlakukan secara aktif. Jangan tunggu pemimpin memerintahkan sesuatu yang rutin kepada kita. Kerjakan hal itu sebelum si pemimpin meminta. Jika ada perintah untuk menyelesaikan suatu permasalahan, berikan ia beberapa pilihan penyelesaian. Biarkan seoalah-olah dia yang menentukan keputusan, karena kita tahu bahwa keputusan apapun itu adalah salah satu dari yang kita usulkan. Memberikan satu pilihan penyelesaian kepada atasan sangatlah berbahaya, karena ia akan berfikir lagi dan itu akan berakibat kepada penyelesaian yang berkepanjangan. Ingat, memilih lebih mudah daripada berfikir.
Yang ke lima, ingatlah benar-benar, bahwa pemimpin mempekerjakan kita untuk memudahkan pekerjaannya bukan membayar kita agar kita menyuruh dia selalu marah-marah memperingatkan kita.

Pemimpin sukses
Pemimpin sukses adalah pemimpin yang bisa membawa lembaga dan pengikutnya mencapai tujuan bersama serta mampu menciptakan pemimpin-pemimpin berikutnya. Pemimpin yang tidak memiliki pemimpin-pemimpin lanjutan adalah pemimpin yang egois dan ia tidak pernah benar-benar menikmati kesuksesan sejati. Pemimpin sukses adalah orang-orang yang menyadari bahwa ada “pemimpin” lain yang membawanya menuju posisi puncak tersebut.
Dunia menghormati Sir Edmund Hillary karena ketekunannya mewujudkan impian menjadi orang nomor satu, Sir Edmund Hillary menghormati Tenzing Norgay karena dengan tulus membantunya untuk menjadi orang nomor satu. Ketika orang-orang bertanya, kenapa dia memberi kesempatan Edmund Hillary untuk menjadi orang pertama? Dengan rendah hati dia menjawab: “If it is a shame to be the second man on Mount Everest, then I will have to live with this shame.”

diambil dari Tulisan cahyo purnomo


Actions

Information

3 responses

27 09 2009
romailprincipe

Pemimpin = memberi pengaruh bukan?
setuju sekali dengan konsep memimpin tidak melulu dalam kepemimpinan formal, atau saya bahasakan “man behind the scene”…
sayang saya berulang kali gagal, karena keinginan tampil begitu besar…

27 09 2009
prima8

benar tapi alangkah baiknya seseorang memberi pengaruh kepemimpinan yang berawal dari hati.
Tidak ada kata gagal dalam kepemimpinan, banyak pemimpin didunia ini yang berhasil setelah berulang kali gagal. jadi terus semangat dan selalu bermimpi akan kebarhasilan anda dalam memimpin karna itu adalah sebuah awal menuju apa yang anda impikan
terima kasih atas kunjungannya

27 09 2009
wahyu am

nice post gan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: