Pengaruh Positif dan Negatif Tayangan Televisi Pada Anak

17 06 2010

abstrac
Televisi sebagai salah satu buah dari kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak memberi hiburan, informasi dan nuansa edukatif terhadap khalayak umum. Kecepatan dalam menyampaikan berita dan keefektifannya dalam menampilkan gambar membuat kita lebih nyaman dalam mengakses informasi. Tapi juga tidak dapat dipungkiri dari sekian banyak kenyamanan yang telah terasa juga membawa ekses negatif terhadap pola kehidupan kita, terutama sekali pada pola perkembangan kehidupan anak-anak kita yang rata-rata masih di usia dini. Selain pengaruh positif, pengaruh negatif pun juga tidak bisa terelakkan.

Latar Belakang

Ada hal yang sangat menggelisahkan saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi belakangan ini. hampir semua stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan (sadisme), pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan itu semakin bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh anak-anak. Rata-rata anak usia Sekolah Dasar menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan televisi lebih dari 4 hingga 5 jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa 7 sampai 8 jam. Jika rata-rata 4 jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal waktu yang dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. Ini berarti anak-anak meluangkan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun, kecuali tidur. Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua tidak sadar akan kebebasan media yang kurang baik atas anak-anak. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi. Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bagaimana dampaknya bagi perkembangan anak-anak.
Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua program televisi berdampak buruk bagi anak. Ada juga program televisi yang punya sisi baik, misalnya program Acara Pendidikan. Banyak informasi yang bisa diserap dari televisi, yang tidak didapat dari tempat lain. Namun di sisi lain banyak juga tayangan televisi yang bisa berdampak buruk bagi anak. Sudah banyak survei-survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak tayangan televisi di kalangan anak-anak. Sebuah survei yang pernah dilakukan harian Los Angeles Times membuktikan, 4 dari 5 orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan TV yang mengandung unsur kekerasan. Kekerasan di TV membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah. Sementara itu sebuah penelitian di Texas, Amerika Serikat, yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun terhadap 200 anak usia 2-7 tahun menemukan bahwa anak-anak yang banyak menonton program hiburan dan kartun terbukti memperoleh nilai yang lebih rendah dibanding anak yang sedikit saja menghabiskan waktunya untuk menonton tayangan yang sama. Dua survei itu sebenarnya bisa jadi pelajaran.

Namun di Indonesia suguhan tayangan kekerasan dan kriminal seperti Patroli, Buser, TKP dan sebagainya, tetap saja dengan mudah bisa ditonton oleh anak-anak. Demikian pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya hidup dan kemewahan juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang serba glamour. Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah. Anak-anak sekolahan dengan dandanan yang “aneh-aneh” tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar justru dipajang sebagai pemikat. Sikap terhadap guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak mendidik. Dikawatirkan anak-anak sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di sinetron-sinetron yang berlimpah kemewahan itu.
Menurut dr. Hardiono D. Pusponegoro SpA (K), dokter spesialis anak konsultan neurology dari RSCM, beliau mengatakan, “Televisi memiliki dampak positif dan negatif bagi anak. Tetapi membiarkan anak menonton televisi sepanjang hari, pastinya akan menurunkan tingkat kecerdasan anak.”Beliau menjelaskan, dengan hanya menonton televisi, otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif, dan memecahkan masalah. Selain itu, televisi bersifat satu arah, sehingga membuat anak kurang mengeksplorasi dunia tiga dimensi dan kehilangan peluang mencapai tahapan perkembangan yang baik. Ia menambahkan, sambungan-sambungan antar synaps (jaringan dalam otak yang membuat cerdas seorang anak) sangat ditentukan oleh gerakan tubuh. Bila anggota tubuh bergerak, maka otak akan membuat jaringan tentang aktifitas itu terus menerus sehingga menjadi kebiasaan. Otak akan mengabadikannya. Synap tidak berkembang dengan baik.“Karena itu, para ahli neuroscience sepakat, yang dkutip dari situsnya www.tvturnoff.com bahwa menggunakan mata menonton televisi terlalu banyak akan membuat anak kesulitan membaca,” tuturnya.
Pengaruh Positif
Memang tidak semua tayangan televisi tidak berdampak buruk bagi perkembangan anak, seperti tayangan discovery chanel yang berisikan mengenai seputar ilmu pengetahuan seperti kehidupan hewan, biografi tokoh, pendidikan dalam menjaga alam, dan sebagainya.
Hal ini memang sangat membantu perkembangan motorik kerja otak bagi anak dalam belajar, yang berguna untuk mengenal berbagi kehidupan yang ada dibumi ini, hal ini mungkin tidak didapat didalam lingkungan kesehariannya melaikan didapat dari tayangan tersebut.
Di Indonesia sendiri ada juga tayangan yang mendidik bagi anak seperti tv education yang ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI) tayangan ini juga berisi mengenai pendidikan yang baik bagi anak, dimana tayangan tersebut mengenai pembahasan pelajaran sekolah mulai dari tingkat dasar sampai tingkat atas (SD-SMA). Jadi pemilihan program tayangan televise yang baik kembali diserahkan kepada orang tua.
Pengaruh Negatif
Kehadiran stasiun baru dalam pertelevisian nasional mau tidak mau semakin mempertajam tingkat persaingin dalam bisnis di bidang ini. Sebagai konsekuensinya, para awak televisi harus memilih strategi tepat dalam menggaet segmen pemirsa. Upaya merebut hati penonton ini dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan rating sekaligu menaikkan iklan yang masuk. Dalam iklim kompetisi tersebut, ternyata beberapa televisi memilih jalan pintas antara lain dengan mengeksploitasi dunia anakanak dan remaja secara berlebihan. Eksploitasi ini diindikasikan dalam empat hal.
1. Judul-judul sinetron remaja yang disajikan sering kali bertemakan vulgarisme, menantang dan mengandung unsur pornografi.
2. Pemain sinetron yang dipilih rata-rata berasal dari kalangan remaja belia atau bahkan sebagian masih berusia anak-anak.
3. Jenis-jenis peran yang dimainkan oleh para artis remaja sering kali bertabrakan dengan norma pergaulan masyarakat dan belum sesuai dengan tingkat perkembangan psikologisnya. Salah satu buktinya, banyak artis usia remaja yang dari pengakuannya belum pernah berperlukan dan berciuman dipaksa untuk memerankan adegan percintaan, pacaran serta menjalankan adegan berciuman, berpelukan dan bergendongan sesuai arahan skenario cerita.
4. Banyaknya alur cerita sinetron remaja yang mengambil seting anak-anak sekolah lengkap dengan seragam sekolah, lokasi sekolah, aneka pergaulan di kelas dan luar kelas. Pada hal jika dicermati, beberapa adegan sinetron yang berseting sekolahan ini tidak sesuai dengan norma agama dan adat ketimuran yang berlaku. Praktik eksploitasi anak-anak dan remaja dalam sinetron perlu dihindari. Pasalnya, tayangan sinetron remaja yang vulgar dan menampilkan unsur pornografi dalam jangka panjang akan mengotori jiwa dan pikiran anak-anak yang sebetulnya masih berada dalam tahap bimbingan dan keteladanan.

Bukankah cara belajar anak-anak pertama adalah meniru terhadap apa yang dilihat atau sering dikatakan para psikolog what they see is what they do (apa mereka lihat adalah apa yang mereka kerjakan. Keadaan akan lebih parah jika orang tua sendiri tak mampu memberi keteladanan karena anak-anak pasti akan mencari teladan dari tempat lain termasuk dari tayangan sinteron, sehingga saat menonton sinetron, anak-anak akan mengalami proses internalisasi (pengendapan) dan meresapi kesan-kesan, citra dan nilai-nilai yang terkandung dalam alur cerita tersebut. Dalam keadaan psikologis yang masih labil tentu anakanak akan gampang meniru gaya dan pola pergaulan yang dikisahkan tokoh-tokoh pada sinetron itu.
Kuatnya pengaruh tontonan televisi terhadap prilaku seseorang telah dibuktikan lewat penelitian ilmiah. Seperti diungkapkan oleh hasil penelitian American Psychological Association (APA) pada 1995 bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berprilaku baik. Sedangkan tayangan kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berprilaku buruk. Bahkan, penelitian itu menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil dari pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia anak-anak. Cerita tentang prilaku negatif yang dilakukan anak-anak karena pengaruh tontonan ini juga sudah sering kita dengar. Kita sering mendengar ucapan anak-anak yang menirukan ucapan nakal dari tokoh film animasi “Shincan” yang kasar dan jorok. Belum lagi beberapa contoh-contoh prilaku negatif lain seperti pergaulan bebas, merampok, memperkosa, bertengkar dan lain-lain yang dilakukan remaja karena pengaruh tayangan televisi.
Ada beberapa sebab yang menjadikan tayangan televisi memberi dampak negatif bagi para penontonnya. Sebuah tayangan televisi misalnya, yang mestinya ditonton oleh remaja usia 17 tahun ke atas jika ditonton oleh anak-anak usia 16 tahun ke bawah tentu akan membawa pengaruh buruk bagi mentalitas mereka.
Penelitian para psikolog Amerika Serikat telah membuktikan hal tersebut. Menurut hasil penelitian mereka yang dipublikasikan dalam Jurnal Ef-fective Clinical Practice terungkap bahwa menonton film-tak perlu harus mengandung material porno, asal dalam rating “R”-sudah cukup membuat anak berada di tepi kehancuran.
Sekadar informasi, rating R adalah film-film yang ditujukan untuk usia 17 tahun ke atas. Memperoleh film ini tak sukar, karena ada video CD dan rental-rental yang menyewakannya tanpa peduli usia. Di layar televisi, ada banyak film rating R yang diputar pada jam-jam yang masih memungkinkan ditonton anak-anak. Anak-anak yang menonton tayangan orang dewasa ini memiliki kecenderungan berprilaku negatif tiga kali dibandingkan jika mereka tidak menonton. emikian kuatnya pengaruh film itu, hingga kecenderungan tersebut tak dapat diubah atau dipengaruhi oleh para orangtua meski dengan hukuman ataupun larangan.

Peran Orangtua
Peran orangtua dalam hal mengatur si anak untuk menonton televisi adalah kunci awal untuk membendung berbagai program televisi yang tidak mendidik. Karena selama ini program televisi sangat sarat dengan hal-hal yang tidak mendidik, maka dalam hal ini yang diperlukan adalah bagaimana orang tua mampu memberikan alias mengatur dan memilih waktu dan tayangan-tayangan yang terbaik untuk anaknya. Bagi orang tua yang sejatinya dipilih adalah acara yang memang itu dunia anak-anak, seperti kartun, Unyil dan hal-hal yang bersifat menghibur, permainan, dan mengarah pada penambahan perbendaharaan kata-kata yang pantas untuk anak-anak.
Program yang mengarah pada hal-hal yang edukatif dan sesuai dengan dunia anak tidak apa-apa untuk digalakkan. Jangan sampai orang tua memberikan waktu luang terlampau banyak pada anak-anak untuk menonton program televisi yang diperuntukkan bagi orang dewasa, seperti adegan-adegan kekerasan, sinetron yang vulgar dan sinetron yang berbau mistis. Semua itu akan mempengaruhi mentalitas anak untuk berbuat layaknya apa-apa yang telah ditonton dan terekam dalam benaknya. Untuk memilih program apa yang sebenarnya sesuai dengan dunia anak-anak, orang tua sejatinya mengetahui program yang tepat untuk dunianya.
Hurlock dalam penelitiannya yang dikutip oleh Arini Hidayati (Televisi dan Perkembangan Sosial Anak, 1998) memberi beberapa perincian program yang tepat sesuai dengan usia anak. Untuk anak usia pra-sekolah lebih menyukai dramatisasi yang melibatkan hewan, musik, kartun dan komedi sederhana. Anak kelas satu dan dua biasanya menyukai pertunjukan boneka, film koboi, misteri dan humor. Anak kelas tiga dan empat biasanya lebih menyukai acara yang imajinatif dan anak kelas lima dan enam lebih cenderung pada acara-acara yang berbau ilmu pengetahuan dan hasta karya serta film-film yang imajinatif. Pembagian fase-fase potensial tersebut hanyalah sebagai pemetaan saja akan kecendrungan dan kegandrungan anak dari aspek usia.
Tapi yang jauh lebih penting untuk menjadikan televisi sebagai media pendidikan anak adalah sejauh mana orangtua bisa mengetahui kegandrungan anak-anak dan dia mengaturnya serta mengendalikan sebaik mungkin. Jangan sampai terpaku pada salah satu konsepsi teoritis. Karena bagaimanapun tidak sedikit kita jumpai anak-anak yang mempunyai perkembangan kecerdasan dan mental yang melampaui anak seusianya. Pada anak tipe inilah dituntut kreatifitas orangtua dalam mengembangkan potensi kecerdasan anak secara maksimal. Dalam hal ini orangtua mendapatkan peran yang paling strategis karena sejatinya memang pendidikan anak usia dini dalam wilayah informal guru paling mengerti adalah orangtua. Maka dari itu tantangan yang terberat saat ini adalah bagaimana peran orangtua tidak tergeser oleh televisi, tapi bagaimana orangtua mampu menjadikan televisi sebagai media pendidikan untuk anak-anaknya.
Peranan Orangtua Memang televisi bisa berdampak kurang baik bagi anak, namun melarang anak sama sekali untuk menonton televisi juga kurang baik. Yang lebih bijaksana adalah mengontrol tayangan televisi bagi anak-anak. Setidaknya memberikan pemahaman kepada anak mana yang bisa mereka tonton dan mana yang tidak boleh. Orang tua perlu mendampingi anak-anaknya saat menonton televisi. Memberikan berbagai pemahaman kepada anak-anak tentang suatu tayangan yang sedang disaksikan. Selain sarana membangun komunikasi dengan anak, hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. Kebiasaan mengonsumsi televisi secara sehat ini mesti dimulai sejak anak di usia dini.Tidak ada suatu hal pun yang meng-orkestrasi semua gaya anak-anak kecuali alam bawah sadarnya yang sudah dibentuk oleh televisi. Bukti visual ini pun menangkap sebuah interaksi yang sangat mirip dengan acara-acara perburuan dan penyergapan terhadap para penjahat yang acap kali disiarkan di televisi. Seperti contohnya seorang anak yang meninggal akibat bermain “smack down”.Sehingga tanpa pengawasan orang tua, televisi dapat berbahaya bagi anak-anak, dalam cara pikir, perilaku, kebiasaanya, dll. Hali ini akan berpengaruh terhadap pembentukan watak anak tersebut hingga ia dewasa nanti.

Bagaimanapun, TV merupakan salah satu media belajar bagi anak dan bisa memberi pengaruh positif dan negatif terhadap tumbuh kembangnya. Yang penting, mencegahnya agar tak sampai kecanduan nonton TV. karena anak usia ini sedang dalam tahap mengembangkan perilaku sosial. Ia harus mendapat banyak kesempatan bermain dengan teman-temannya. Karena itu jangan jadikan TV sebagai pengganti bentuk bermain. Menonton TV itu cenderung pasif. Tak ada interaksi dua arah. Berbeda jika ia bermain dengan teman-temannya. Ia akan aktif, entah fisiknya, komunikasi, atau sosial. Sehingga ada timbal-balik, belajar saling memberi. Serta peran orang tua yang harus selalu mendampingi anak-anaknya dalam menonton TV .

Peran Pemerintah
Peran pemerintah dalam mengantisipasi pengaruh televisi bagi masyarakat khususnya anak-anak harus lebih ditingkatkan lagi, dalam hal ini pemerintah yang diwakili oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) harus lebih menyeleksi dan mendisiplinkan tayangan-tayangan televisi yang yang memiliki pengaruh buruk pada anak, terlebih pada anak usia dini.
Berdasarkan Undang-undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran,
Pasal 4 alinea b yang berbunyi :
• Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial
Jelas tertulis dalam pasal ini bahwa setiap tayangan yang disiarkan harus berisikan pendidikan bagi pemirsanya.

pasal 5 alinea b dan c yang berbunyi :
• Alinea b : menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa
• Alinea c : meningkatkan kualitas sumber daya manusia
Didalam alinea b, saya mengartikan bahwa semua tayangan televisi harus memuat atau menayangkan program yang dapat meningkatkan moralitas pemirsanya dalam hal ini khususnya anak-anak yang berguna dalam membangun jati diri bangsa. Namun sebaliknya masih banyak tayangan tayangan yang berlawanan dengan pasal tersebut.
Alinea c, didalam alinea tertulis meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, dalam hal ini jelas mempunyai makna bahwa setiapa tayangan televisi harus bisa membuat tayangan-tayangan yang berguna bagi pemirsanya terlebih bagi anak-anak haruslah tayangan yang disiarkan bersifat mendidik.
Oleh karena itu ada baiknya pemerintah melalui KPI kembali secara ketat mengawasi segala macam program tayangan televisi dan dapat memberikan sanksi yang tegas bagi setiap pelanggaran yang telah terjadi maupun yang akan datang.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: